blog-img
16/08/2021

Hama dan Penyakit Tanaman Padi di Provinsi Kalimantan Barat Pada bulan Juli 2021

|

Masalah kerusakan tanaman akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) telah menjadi perhatian manusia sejak awal kegiatan budidaya tanaman. Organisme pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah adalah semua organisme yang mempunyai potensi menimbulkan kerusakan ekonomis atau gangguan pada tanaman termasuk didalamnya adalah hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman dapat menimbulkan kerugian secara langsung karena mengurangi kuantitas dan kualitas hasil, serta meningkatkan biaya produksi. Hama adalah semua hewan yang merusak tanaman yang dapat menimbulkan kerugian. Hama yang merusak tanaman dapat dilihat secara jelas dari bekasnya (gerekan atau gigitan). Secara garis besar hewan yang dapat menjadi hama dapat dari jenis serangga, moluska, tungau, tikus, burung, atau mamalia besa. Penyakit tanaman adalah gangguan pada tumbuhan yang disebabkan oleh patogen maupun non patogen sehingga menyebabkan proses pertumbuhan tanaman secara keseluruhan atau apda bagian tertentu tidak dapat berjalan sesuai fungsi normalnya, atau dengan kata lain menghambat proses pertumbuhan tanaman. Sebaran penyakit pada tanaman dapat terjadi melalui jamur, bakteri, riketsia, mikoplasma, spiroplasma dan hama yang membawa virus.

Langkah awal dalam penanganan hama dan penyakit adalah dengan melakukan pengamatan terhadap tanaman pertanian. Padi yang merupakan tanaman pangan utama di Indonesia dan kalimantan Barat menjadi prioritas utama dalam penanganan hama dan penyakitnya. Pengendali organisme pengganggu tumbuhan merupakan petugas yang diberi tanggung jawab dalam Pengamatan dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan pangan dan hortikultura di Indonesia. UPT Perlindungan tanaman pangan dan hortikultura Provinsi kalimantan Barat merupakan garda terdepan POPT di Kalimantan Barat secara rutin dan berkelanjutan melakukan pengamatan dan pengendalian OPT setiap bulannya guna mengantisipasi serangan hama penyakit. Pengamatan dilakukan dengan metode pengamatan petak tetap dan pengamatan petak keliling. Petak pengamatan didapat dari wilayah kecamatan yang dibagi menjadi sub wilayah. Metode ini diharapkan dapat menghasilkan data perwakilan yang valid untuk menjadi dasar pengendalian yang harus dilakukan. Pengamatan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dilakukan oleh POPT UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi kalimantan Barat pada bulan Juli Tahun 2021 mengasilkan data OPT dari 14 kota/kabupaten di Kalimantan Barat. Berdasarkan data laporan didapati 5 hama utama dengan serangan terluas yaitu hama putih palsu, walang sangit, penggerek batang padi, tikus, dan burung. Hama putih palsu (HPP) menyerang seluas 237,14 ha, walang sangit menyerang seluas 187,06 Ha, penggerek batang padi menyerang seluas 182,12 ha, tikus menyerang seluas 112,91 ha dan burung menyerang padi seluas 77,07 ha. Hama lain terdiri dari bercak coklat, blast, bakteri hawar daun, siput murbei, anjing tanah, bercak bergaris, wereng coklat, belalang dan ulat grayak. 5 Hama dengan Serangan Terluas di Kalimantan Barat

Hama Putih Palsu

Hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis) bukan hama utama dan hama yang membahayakan bagi tanaman padi akan tetapi serangan hama putih palsu tetap akan berdampak merugikan bagi petani. Dari pengalaman maspary serangan hama putih palsu terjadi pada saat tanaman masih dalam vase vegetatif (tanaman muda) walaupun tidak menutup kemungkinan juga kadang terjadi saat tanaman sudah keluar malai. Dan biasanya menjadi serangan yang berarti bila kerusakan pada daun terjadi saat padi memasuki fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai > 50%. Hama putih palsu biasanya menjadi hama penting pada tanaman padi yang dipupuk berat. Ledakan populasi/jumlah dapat terjadi pada musim tanam setelah melewati musim kemarau yang panjang. Kerusakan akibat serangan larva/ ulat hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Larva makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Siklus hidup hama ini berkisar 30-60 hari. Pengendalian hama putih palsu dapat melalui pemanfaatan musuh alami. Musuh alami dapat menyerang hama putih palsu mulai dari fase telur hingga fase dewasa (imago/ngengat). Musuh alami hama putih palsu yaitu parasit telur berupa tabuhan Apanteles ruficrus, parasit ulat (larva) Melcha maculiceps dan parasit kepompong (pupa) Brachymeria sp.

Walang Sangit

Walang sangit (Leptocorisa oratorius) adalah salah satu hama yang menyerang tanaman padi. Walang sangit memiliki ukuran panjang tubuh 1-2 cm. Untuk melindungi dirinya, walang sangit mengeluarkan bau yang menyengat. Perkembangbiakannya melalui telur yang dapat dihasilkannya hingga 200 butir per indukan. Telur-telur ini biasanya diletakkan pada daun tanaman inangnya. Walang sangit menyerang padi dalam fase generatif yakni dengan menhisap cairan yang terdapat pada bulir padi. Akibat dari serangan walang sangit ini menyebabkan bulir padi tidak sempurna sehingga beras yang dihasilkan akan sedikit kekuningan, mengapur, dan bahkan tinggal kulit bulirnya.

Penggerek Batang Padi

Hama ini menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian hingga menjelang panen. Gejala yang ditemukan sebelum padi berbunga disebut sebagai sundep dan gejala serangan yang dilakukan setelah malai keluar dikenal sebagai beluk. Cara pengendalian dapat dilakukan dengan pengaturan pola tanam (tanam serentak dan rotasi tanaman), mekanik (pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman), menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap), cara fisik (penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen), penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati, pengendalian hayati (pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit).

Tikus

Tikus merupakan hewan dengan mobilitas luas, memiliki daya adaptasi tinggi serta perkembangbiakan cepat. Hama tikus menyerang dengan giginya yang tajam untuk melahap setiap bulit biji tanaman. Tikus biasanya membuat lubang atau sarang di area sawah dan semak-semak sebagai tempat perlindungan atau bersembunyi.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hama tikus, antara lain:

• Menutup lubang-lubang di sekitar sawah, kemudian tangkap tikus saat mereka berusaha kabur.

• Manfaatkan populasi ular tidak berbisa untuk mengusir atau memangsa tikus.

• Menggunakan alat pembasmi tikus atau umpan beracun sesuai dosis yang dianjurkan. Namun, kita patut berhati-hati dalam menerapkan cara ini karena risiko keracunan terhadap diri sendiri.

Burung

Burung yang sangat suka memakan tanaman padi adalah burung pipit (emprit). Berbagai jenis burung pipit yang tercatat sebagai hama pertanaman padi seperti Lonchurastriata L., Lonchurapuntulata, dan Lonchuraleucogastra. Serangannya menyebabkan biji hampa, bulir padi mengering, dan banyak biji yang hilang karena rontok. Pengendalian dapat dilakuan dengan beberapa cara diantaranya menggunakan jaring khusus perangkap burung atau jaring bekas penangkap ikan untuk mengendalikan hama burung di sawah. Caranya dengan menancapkan beberapa bambu sebagai tiang di pematang sawah, kemudian mengikat jaring di bambu tersebut dan dibentangkan di atas pertanaman padi yang mulai masak atau mulai diserang hama burung dan Membentangkan tali keseluruh penjuru sawah, kemudian pada tali tersebut diberikan (digantungkan) kaleng bekas sebagai sumber bunyian. Kaleng bekas yang ditiup angin secara otomatis dapat menghalau burung karena bunyi riuh yang dihasilkan.

(Kontributor : Yeni Nurhidayah,S.Si)

Bagikan Ke:

Populer